Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi, Mahasiswa PK PNF UNY di SKB Gunungkidul Bekali Peserta Didik Nglipar dengan Keterampilan.

Nglipar, Gunungkidul (11/09/2026)– Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Pendidikan Nonformal (PNF) Universitas Negeri Yogyakarta yang beranggotakan Aker Aksara, Elysia Shafa, Nukia Lajuba, Arniya Nur K, Nazarudin, Kamelia, Adelia, Candra dan Audy Putri, melaksanakan praktik di SKB Gunungkidul serta menyelenggarakan Workshop Kreasi Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah bagi peserta didik di Nglipar. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis keterampilan yang mengintegrasikan aspek pendidikan, kepedulian lingkungan, dan pengembangan potensi ekonomi. Peserta didik diajak mengenali berbagai jenis limbah, khususnya minyak jelantah, serta mempraktikkan pemanfaatannya menjadi produk kreatif berupa lilin aromaterapi. Kegiatan ini mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi sebagai dampak lanjutan dari pengenalan keterampilan pengemasan dan pemasaran produk

Workshop dilaksanakan di Nglipar dengan sasaran peserta didik yang berlatar belakang ibu-ibu rumah tangga dengan tiga topik utama. Pertama, pengenalan macam-macam limbah, termasuk jenis, dampak, serta pentingnya pengelolaan limbah dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, peserta mengikuti demonstrasi pengolahan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi dengan mengenalkan alat, bahan, tahapan pembuatan, serta proses pemanfaatan minyak jelantah beserta HPP secara singkat. Ketiga, peserta memperoleh sosialisasi mengenai pengemasan dan pemasaran produk, mulai dari pentingnya tampilan kemasan, pemberian identitas produk, hingga pengenalan strategi pemasaran sederhana. Kegiatan dilaksanakan secara interaktif agar peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki pengalaman belajar secara langsung.

Melalui workshop ini, peserta didik memperoleh pengetahuan mengenai pengelolaan limbah sekaligus keterampilan praktis dalam mengolah minyak jelantah menjadi produk baru. Pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi menjadi salah satu bentuk penerapan prinsip konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12) karena mendorong pemanfaatan kembali bahan yang berpotensi menjadi limbah. Sementara itu, proses pembelajaran berbasis praktik mendukung SDG 4 melalui pengembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Dalam jangka lebih lanjut, keterampilan membuat, mengemas, dan memasarkan produk juga berpotensi menjadi keterampilan kewirausahaan yang dapat mendukung SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, meskipun kontribusi terhadap SDG 8 ditempatkan sebagai dampak lanjutan dari kegiatan.

Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada proses workshop, tetapi dapat mendorong peserta didik untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan limbah menjadi produk kreatif yang bernilai jual ini diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membuka wawasan peserta mengenai peluang pengembangan produk sederhana yang memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran nonformal ini menjadi salah satu upaya untuk menghubungkan pendidikan, kepedulian lingkungan, dan pengembangan keterampilan peserta didik secara kontekstual sesuai kebutuhan masyarakat.