Dari Dapur ke Kelas: Cara Kreatif SKB Sleman Bawa Kimia ke Warga Belajar Paket C, Dukung SDGs Pendidikan Berkualitas

Ketimpangan akses pendidikan masih menjadi permasalahan besar di Indonesia. Data Kementerian Pendidikan mencatat jutaan penduduk usia sekolah tidak dapat menyelesaikan pendidikan formal karena berbagai kendala ekonomi, sosial, hingga geografis. Bagi sebagian dari mereka, pendidikan kesetaraan seperti Paket C menjadi satu-satunya jalan untuk tetap mengenyam pendidikan dan meraih ijazah setara SMA. Namun, tantangan tak berhenti di situ: warga belajar Paket C umumnya adalah orang dewasa dengan kesibukan bekerja, rentang usia yang beragam, dan jeda waktu panjang sejak terakhir kali duduk di bangku sekolah, sehingga metode pengajaran konvensional kerap sulit diterima.

Menjawab tantangan tersebut, Aisyah Amini, mahasiswa Pendidikan Nonformal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menggagas pembelajaran kontekstual materi Konsep Mol dan Stoikiometri bagi warga belajar Paket C di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Sleman. Kegiatan yang berlangsung dalam rangkaian Program Kampus (PK) ini menggunakan bahan-bahan yang akrab dalam kehidupan sehari-hari, seperti pemutih pakaian, soda kue, dan aneka bumbu dapur, sebagai media untuk menjelaskan konsep kimia yang selama ini dianggap abstrak dan sulit dipahami.

Konsep Mol dan Stoikiometri kerap menjadi momok bagi peserta didik, termasuk di jenjang pendidikan formal, karena sifatnya yang matematis dan jauh dari pengalaman konkret. Persoalan ini menjadi lebih kompleks ketika diajarkan kepada warga belajar Paket C, yang mayoritas telah lama meninggalkan rutinitas belajar dan memiliki latar belakang pendidikan sebelumnya yang beragam.

Aisyah memilih pendekatan berbeda. Alih-alih menjejalkan rumus di papan tulis, ia mengajak warga belajar mengamati reaksi kimia sederhana menggunakan bahan yang biasa mereka temui di dapur atau kamar mandi rumah masing-masing. Sementara label komposisi pada kemasan dipakai sebagai bahan diskusi mengenai konsentrasi dan perbandingan zat. “Kami mempercayai bahwa semua warga belajar memiliki pengalaman hidup, sedangkan tugas kita Pendidikan Nonformal memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan pendidikan warga belajar. Oleh karena itu, pengalaman yang dimiliki oleh warga belajar merupakan sebuah potensi yang bisa kita manfaatkan untuk menghadirkan pembelajaran, ,” ujar Bapak Andi selaku pamong pendamping di SKB Sleman.

Inisiatif ini sejalan dengan capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya akses pendidikan inklusif dan setara bagi semua kalangan tanpa memandang usia maupun kondisi sosial-ekonomi. Melalui pendidikan kesetaraan Paket C, SKB Kabupaten Sleman berperan sebagai jembatan bagi masyarakat yang sempat tertinggal dari jalur pendidikan formal untuk tetap mendapatkan haknya atas pendidikan.

Lebih jauh, metode pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang diterapkan Aisyah turut menjawab semangat SDGs 4 dalam aspek peningkatan kualitas dan relevansi pembelajaran, bukan sekadar pemenuhan akses semata. Dengan mengaitkan konsep sains pada realitas kehidupan sehari-hari, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan mudah diserap oleh warga belajar dewasa, yang secara psikologis memerlukan pendekatan berbeda dibanding peserta didik usia sekolah pada umumnya.

Langkah yang dilakukan Aisyah Amini menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu membutuhkan biaya besar atau teknologi canggih. Kreativitas dalam mengaitkan materi ajar dengan konteks kehidupan warga belajar terbukti mampu meningkatkan pemahaman sekaligus motivasi belajar. Model pembelajaran kontekstual semacam ini berpotensi direplikasi di satuan pendidikan nonformal lain di berbagai daerah, sebagai salah satu upaya kolektif mewujudkan pendidikan berkualitas dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.