Cooking Live, Cooking Future: Dapur SKB Sleman Cetak Wirausahawan Muda dari Pendidikan Kesetaraan

Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sleman kembali menegaskan perannya sebagai ruang tumbuh bagi warga belajar pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C, kali ini melalui blok keterampilan tata boga. Diikuti peserta didik lintas jenjang dari kelas 1 hingga kelas 12, kegiatan yang berlangsung secara berkala di kompleks SKB Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini berada di bawah arahan Kepala SKB Sleman, Bapak Yanto, bersama jajaran instruktur dan pengelola program. Lebih dari sekadar aktivitas memasak rutin, program ini menjadi langkah nyata SKB Sleman dalam mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya Tujuan 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak serta Pertumbuhan Ekonomi. Dari dapur yang sederhana, tumbuh harapan besar akan kemandirian masa depan para warga belajarnya.

Program tata boga mulai diperkuat sejak penerapan Kurikulum Merdeka pada 2022, yang menempatkannya setara dengan keterampilan komputer sebagai bagian dari pembelajaran kesetaraan. Setiap bulan, warga belajar praktik langsung mengolah berbagai resep di bawah bimbingan instruktur berpengalaman, salah satunya Ibu Fatiha Bela Ayuningtyas. Materi yang diajarkan tidak berhenti pada teknik memasak, tetapi juga mencakup perhitungan modal usaha, penetapan harga jual, teknik pengemasan produk, hingga strategi promosi lewat media sosial. Bagi peserta Paket B dan C di jenjang akhir, pembelajaran diarahkan lebih jauh menuju kesiapan wirausaha melalui sesi cooking live di hadapan pelanggan serta praktik penjualan langsung kepada warga sekitar SKB.

Dampak program ini terlihat cukup nyata. Warga belajar tidak hanya menguasai keterampilan mengolah bahan makanan, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan disiplin lewat rutinitas praktik di dapur. Keterampilan ini bahkan menular hingga ke lingkungan keluarga salah satu instruktur menyebutkan bahwa resep yang dipelajari kerap diteruskan dan dipraktikkan pula oleh pasangan peserta di rumah, menjadikan satu keterampilan sebagai modal usaha rumah tangga. Sejumlah alumni program telah terserap bekerja di sektor food and beverage (F&B), sementara sebagian lainnya memilih membuka usaha sendiri atau mengembangkan variasi menu baru bagi usaha yang telah dirintis. Pencapaian ini sejalan dengan Target 4.4 SDGs mengenai peningkatan keterampilan kerja bagi pemuda dan orang dewasa, serta Target 8.3 tentang penciptaan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Meski demikian, pelaksanaan program ini tidak lepas dari tantangan. Perbedaan usia, latar belakang, dan tingkat motivasi warga belajar menuntut instruktur untuk terus fleksibel dalam menyesuaikan metode pengajaran. Keterbatasan jam praktik dan alokasi dana juga masih menjadi kendala, terutama bagi peserta Paket A yang cenderung lebih antusias mengikuti sesi praktik dibandingkan penyampaian teori. Atas dasar itu, SKB Sleman berharap porsi jam praktik dan dukungan pendanaan dapat ditingkatkan ke depannya agar proses pembelajaran berjalan lebih optimal. Pada akhirnya, setiap sesi cooking live yang digelar bukan sekadar unjuk kemampuan di hadapan pelanggan, melainkan latihan nyata menyongsong masa depan tempat warga belajar SKB Sleman perlahan menata kemandirian mereka sendiri, satu resep dan satu langkah pada satu waktu.