Mendorong Kreativitas dan Potensi Ekonomi melalui Pelatihan Lilin Aromaterapi bagi Peserta Paket C di Nglipar

Nglipar, Gunungkidul (11/09/2026) — Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Pendidikan Nonformal (PNF) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan pelatihan pembuatan lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah bagi peserta didik Paket C SKB Gunungkidul di Nglipar. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk mengenal pengelolaan limbah sekaligus mengembangkan keterampilan kreatif yang berpotensi memiliki nilai ekonomi. Persoalan limbah menjadi salah satu hal yang diperkenalkan kepada peserta dalam kegiatan tersebut. Minyak jelantah yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah rumah tangga diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan melalui proses pengolahan yang tepat. Pemahaman mengenai limbah tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong peserta untuk melihat kembali berbagai sumber daya yang berada di lingkungan sekitar. Pelatihan dilengkapi dengan demonstrasi pembuatan lilin aromaterapi yang dilakukan oleh mahasiswa. Peserta diperkenalkan pada alat dan bahan, proses pengolahan minyak jelantah, pencampuran bahan, pemberian aroma, pemasangan sumbu, hingga pencetakan lilin. Demonstrasi tersebut memberikan gambaran secara langsung mengenai proses mengubah bahan yang semula dianggap tidak terpakai menjadi produk yang dapat digunakan. Pengalaman belajar semakin diperkuat melalui keterlibatan peserta dalam praktik pembuatan lilin aromaterapi. Peserta dapat mencoba secara langsung tahapan yang telah diperagakan sekaligus mengembangkan kreativitas dalam menghasilkan produk. Kegiatan berlangsung dengan pendekatan praktik sehingga peserta memperoleh pengalaman tidak hanya dalam memahami proses, tetapi juga dalam menghasilkan produk secara mandiri. Aspek pengemasan turut menjadi bagian dari pelatihan. Peserta dikenalkan pada packaging sebagai salah satu unsur penting dalam pengembangan sebuah produk.

Lilin aromaterapi yang telah dibuat dikemas dengan memperhatikan kerapian dan daya tarik tampilan, sehingga peserta memperoleh gambaran bahwa proses menghasilkan produk tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi juga mencakup bagaimana produk tersebut dipresentasikan kepada calon pengguna. Kegiatan ini memberikan pengalaman kepada peserta Paket C mengenai proses sederhana pengembangan produk, mulai dari mengenali permasalahan limbah, mengolah bahan, menghasilkan produk, hingga mengemasnya. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas sekaligus membuka wawasan peserta terhadap pemanfaatan potensi lingkungan sebagai bagian dari kegiatan produktif. Pelatihan pembuatan lilin aromaterapi ini sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 3: Good Health and Well-being, khususnya dalam mendukung kesehatan lingkungan sekitar. Pengolahan limbah minyak jelantah membantu mengurangi risiko pencemaran tanah dan sumber air, sekaligus menghasilkan lilin aromaterapi yang memberikan kenyamanan dan efek relaksasi bagi penggunanya. Kegiatan ini juga mendukung SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure melalui penerapan inovasi sederhana dalam mengolah minyak jelantah menjadi produk baru. Inovasi tidak selalu hadir dalam bentuk teknologi yang kompleks, tetapi dapat berkembang dari kemampuan melihat permasalahan di sekitar dan menemukan cara kreatif untuk memanfaatkannya. Dari perspektif lingkungan, kegiatan tersebut memiliki keterkaitan dengan SDG 13: Climate Action melalui pengenalan pemanfaatan kembali limbah rumah tangga. Peserta diajak membangun kesadaran bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dilakukan melalui langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, termasuk mengurangi pembuangan limbah yang tidak dikelola dengan baik. Melalui kegiatan ini, mahasiswa PNF UNY berupaya menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan. Pelatihan lilin aromaterapi diharapkan tidak hanya menghasilkan sebuah produk, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang dapat mendorong peserta Paket C untuk melihat potensi di sekitar mereka sebagai sumber pembelajaran dan peluang pengembangan ekonomi kreatif.