- plsfip@uny.ac.id atau plsfipuny@gmail.com
- http://pls.fip.uny.ac.id
- @jurplsfipuny
- facebook.com/plsfip.uny
Bahasa Indonesia
English

Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sleman merupakan salah satu satuan pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program Pendidikan Kesetaraan sebagai bentuk layanan pendidikan bagi masyarakat yang memiliki beragam kondisi, usia, pekerjaan, dan latar belakang pendidikan. Program Pendidikan Kesetaraan di SKB Sleman terdiri atas Paket A yang setara dengan Sekolah Dasar (SD), Paket B yang setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Paket C yang setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA). Keberadaan program tersebut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh pendidikan tanpa harus terbatas pada jalur pendidikan formal. Warga belajar yang mengikuti Pendidikan Kesetaraan di SKB Sleman memiliki latar belakang yang beragam. Di antaranya terdapat warga belajar yang telah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), peserta didik yang pernah mengalami putus sekolah atau dikeluarkan dari sekolah formal, peserta didik yang pernah mengalami perundungan atau bullying, hingga warga belajar yang telah berusia sekitar 50 tahun tetapi masih memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan.
Keberagaman karakteristik warga belajar tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak memiliki batasan usia dan kondisi tertentu. Setiap warga belajar memiliki alasan dan pengalaman masing-masing dalam mengikuti Pendidikan Kesetaraan. Ada warga belajar yang mengikuti program karena sebelumnya tidak dapat melanjutkan pendidikan formal, ada yang membutuhkan kesempatan kedua untuk menyelesaikan pendidikan, serta ada pula yang memang memiliki keinginan untuk terus belajar meskipun telah memasuki usia dewasa. Kondisi tersebut menjadikan SKB Sleman sebagai salah satu ruang pembelajaran yang mempertemukan warga belajar dengan pengalaman kehidupan yang berbeda-beda. Keberagaman tersebut juga menjadi salah satu karakteristik pendidikan nonformal yang memiliki pendekatan berbeda dengan pendidikan formal.
Program Pendidikan Kesetaraan di SKB Sleman dilaksanakan pada hari Senin sampai Kamis dengan pembagian waktu berdasarkan jenjang pendidikan. Pembelajaran Paket A dilaksanakan pada pukul 07.30–11.00 WIB, sedangkan pembelajaran Paket B dan Paket C dilaksanakan pada pukul 12.00–15.00 WIB. Pembagian waktu tersebut menjadi bagian dari pengaturan kegiatan pembelajaran agar setiap jenjang dapat mengikuti proses pembelajaran sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Kegiatan pembelajaran tidak hanya dilakukan dengan penyampaian materi secara teoritis, tetapi juga memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk menghubungkan materi pembelajaran dengan pengalaman yang mereka miliki.
Proses pembelajaran Pendidikan Kesetaraan memiliki karakteristik yang berbeda dengan pembelajaran pada pendidikan formal. Dalam pendidikan nonformal, proses pembelajaran dapat disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan yang dekat dengan kehidupan warga belajar. Materi pembelajaran tidak hanya disampaikan berdasarkan teori, tetapi dapat dikaitkan dengan pengalaman, permasalahan, maupun situasi yang ditemui oleh warga belajar dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut membuat proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual karena warga belajar dapat memahami materi dengan menghubungkannya pada pengalaman yang sudah mereka miliki.
Pengalaman warga belajar menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembelajaran di Pendidikan Kesetaraan. Warga belajar yang telah bekerja, misalnya, memiliki pengalaman yang berbeda dengan warga belajar yang masih berada pada usia sekolah. Begitu pula dengan warga belajar yang pernah mengalami permasalahan dalam pendidikan formal memiliki pengalaman yang berbeda dengan warga belajar yang sejak awal mengikuti proses pendidikan secara berkelanjutan. Perbedaan tersebut dapat menjadi sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran. Guru atau tutor dapat mengembangkan pembelajaran dengan memperhatikan kondisi dan pengalaman warga belajar sehingga materi yang diberikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat dipahami melalui situasi yang dekat dengan kehidupan mereka.
Pembelajaran berbasis pengalaman juga memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran. Warga belajar tidak hanya berperan sebagai penerima materi, tetapi dapat menyampaikan pengalaman, pendapat, dan pengetahuan yang telah diperoleh dari lingkungan kehidupan mereka. Pengalaman tersebut kemudian dapat dikaitkan dengan materi yang sedang dipelajari. Dengan cara tersebut, pembelajaran dapat berlangsung secara dua arah dan memberikan ruang bagi warga belajar untuk saling belajar berdasarkan pengalaman masing-masing.
Keberadaan warga belajar dengan usia yang beragam juga menunjukkan penerapan konsep pendidikan sepanjang hayat atau lifelong learning dalam pendidikan nonformal. Warga belajar yang telah berusia sekitar 50 tahun tetapi masih memiliki keinginan untuk belajar menunjukkan bahwa proses pendidikan dapat berlangsung pada berbagai tahap kehidupan. Pendidikan tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak dan remaja, tetapi juga dapat diikuti oleh orang dewasa yang ingin memperoleh pengetahuan, meningkatkan kemampuan, ataupun menyelesaikan pendidikan yang sebelumnya belum dapat dituntaskan.
Program Pendidikan Kesetaraan di SKB Sleman memiliki keterkaitan yang kuat dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education). SDGs Nomor 4 menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua. Dalam konteks Pendidikan Kesetaraan di SKB Sleman, prinsip tersebut dapat dilihat dari adanya kesempatan bagi masyarakat dengan kondisi dan latar belakang yang beragam untuk memperoleh pendidikan. Program Paket A, Paket B, dan Paket C memberikan alternatif bagi masyarakat yang tidak atau belum memperoleh kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan melalui jalur formal. Selain memberikan akses pendidikan, proses pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan pengalaman warga belajar juga menjadi bagian penting dalam mewujudkan pendidikan yang bermakna. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyelesaian materi, tetapi juga berusaha menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan warga belajar. Pendekatan tersebut memungkinkan pengalaman yang dimiliki warga belajar menjadi bagian dari proses pendidikan. Dengan demikian, pembelajaran dapat menjadi lebih relevan dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.
Program Pendidikan Kesetaraan juga dapat dikaitkan dengan SDGs Nomor 10, yaitu Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities) karena program tersebut memberikan kesempatan pendidikan kepada masyarakat dengan latar belakang yang berbeda-beda. Warga belajar yang pernah mengalami hambatan dalam pendidikan formal tetap memperoleh ruang untuk melanjutkan pendidikan. Demikian pula dengan masyarakat yang telah memasuki usia dewasa tetapi masih memiliki keinginan untuk belajar. Kesempatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan nonformal dapat menjadi salah satu sarana untuk memperluas akses pendidikan bagi kelompok masyarakat yang memiliki kondisi dan pengalaman pendidikan yang beragam.
Pelaksanaan Pendidikan Kesetaraan di SKB Sleman menunjukkan bahwa pendidikan nonformal memiliki peran dalam memberikan akses belajar yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kondisi masyarakat. Keberagaman warga belajar menjadi bagian dari dinamika pembelajaran, karena setiap individu membawa pengalaman dan latar belakang yang berbeda ke dalam kelas. Kondisi tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran yang memperkaya interaksi antara guru atau tutor dengan warga belajar maupun antarsesama warga belajar. Melalui program Paket A, Paket B, dan Paket C, SKB Sleman memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh dan melanjutkan pendidikan dengan pendekatan yang menyesuaikan karakteristik warga belajar. Pembelajaran yang berbasis pengalaman dan lingkungan sekitar juga menunjukkan bahwa pendidikan dapat berlangsung melalui berbagai sumber belajar, termasuk pengalaman kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Pendidikan Kesetaraan di SKB Sleman tidak hanya menjadi alternatif bagi masyarakat yang mengalami hambatan dalam pendidikan formal, tetapi juga menjadi ruang untuk mewujudkan kesempatan belajar sepanjang hayat.
Program tersebut diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat dengan berbagai latar belakang. Keberadaan Pendidikan Kesetaraan menjadi salah satu bentuk nyata bahwa kesempatan memperoleh pendidikan dapat diberikan kepada siapa saja, tanpa dibatasi oleh usia, pekerjaan, maupun pengalaman pendidikan sebelumnya. Melalui pendidikan yang inklusif, kontekstual, dan berbasis pengalaman, SKB Sleman turut berkontribusi dalam mendukung pencapaian SDGs, khususnya SDGs Nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDGs Nomor 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan.
Copyright © 2026,