- plsfip@uny.ac.id atau plsfipuny@gmail.com
- http://pls.fip.uny.ac.id
- @jurplsfipuny
- facebook.com/plsfip.uny
Bahasa Indonesia
English

FGD Pengembangan Model GATI di TAMASYA: Kolaborasi UNY dan DPMKP2KB Gunungkidul Perkuat Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak
Gunungkidul — Upaya memperkuat peran ayah dalam pengasuhan anak terus digencarkan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Pada Selasa (28/4/2026), Departemen Pendidikan Nonformal (PNF) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (FIP UNY) bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil serta Keluarga Berencana (DPMKP2KB) Kabupaten Gunungkidul menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pengembangan Model Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) di Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai ini dilaksanakan di Ruang Rapat Bangga Kencana DPMKP2KB Gunungkidul. FGD tersebut merupakan bagian dari skema Penelitian Kerjasama Dalam Negeri antara UNY dan DPMKP2KB Gunungkidul, yang berfokus pada pengembangan model program berbasis keluarga dengan penekanan pada keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak usia dini. Acara ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah daerah, praktisi pendidikan keluarga, pengelola program TAMASYA, hingga akademisi dari UNY. Diskusi berlangsung dinamis dengan membahas berbagai aspek strategis, termasuk kondisi faktual keterlibatan ayah dalam pengasuhan, tantangan implementasi program, serta kebutuhan model intervensi yang kontekstual dan berkelanjutan.
Dalam forum tersebut, tim peneliti UNY memaparkan kerangka awal pengembangan model GATI yang dirancang untuk diintegrasikan ke dalam program TAMASYA. Model ini diharapkan mampu menjadi panduan implementatif dalam meningkatkan kualitas interaksi ayah dan anak, sekaligus memperkuat ketahanan keluarga sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia. Perwakilan dari DPMKP2KB Gunungkidul menyampaikan apresiasi atas inisiatif kolaboratif ini. Menurutnya, program GATI memiliki relevansi tinggi dengan upaya pemerintah dalam menurunkan berbagai permasalahan keluarga, termasuk stunting dan rendahnya kualitas pengasuhan. “Keterlibatan ayah bukan hanya pelengkap, tetapi merupakan elemen kunci dalam tumbuh kembang anak yang optimal,” ungkapnya dalam sesi diskusi.
Sementara itu, tim peneliti dari Departemen PNF FIP UNY menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga berbasis kebutuhan lapangan. Melalui FGD ini, berbagai masukan dari peserta menjadi bahan penting dalam penyempurnaan model program yang sedang dikembangkan. Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan model program GATI yang aplikatif dan dapat direplikasi di berbagai daerah. Selain itu, sinergi antara UNY dan DPMKP2KB Gunungkidul juga diharapkan menjadi contoh praktik baik (best practice) dalam kolaborasi antara akademisi dan pemerintah daerah dalam pengembangan program pendidikan nonformal berbasis keluarga. Dengan terselenggaranya FGD ini, langkah konkret menuju penguatan peran ayah dalam pengasuhan anak semakin nyata. Ke depan, program GATI di TAMASYA diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan pola asuh yang lebih inklusif, partisipatif, dan berorientasi pada kesejahteraan anak dan keluarga.
Copyright © 2026,