Sekolah di Teras Rumah, Siapa Bilang Tak Bisa? Mahasiswa praktik SALAM mendampingi anak-anak menulis aksara Jawa bersama keluarga: merajut budaya lokal dengan pendidikan

Mahasiswa praktik SALAM mendampingi anak-anak menulis aksara Jawa bersama keluarga: merajut budaya lokal dengan pendidikan.

Belajar bisa lewat siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, prinsip inilah yang dihidupkan Sanggar Anak Alam (SALAM) dalam setiap praktik pembelajarannya. Tak terkecuali dalam kegiatan home visit di rumah Logan, salah satu peserta didik SALAM, yang berlangsung hangat dan penuh semangat pada pekan lalu.

Kegiatan ini menjadi bagian dari praktik konsentrasi mahasiswa yang menekankan pendekatan pendidikan nonformal berbasis keluarga dan komunitas. Di SALAM, ruang belajar tidak dibatasi oleh dinding kelas, tetapi bisa tumbuh di teras rumah, di kebun, di mana pun pengetahuan bisa tumbuh bersama warga belajar.

Dalam kunjungan ini, Logan dan teman-temannya belajar aksara Jawa langsung dari Ibu Isyana (Ibu Varo), orang tua peserta didik yang berperan sebagai narasumber. Mahasiswa praktik konsentrasi hadir mendampingi, membantu menjembatani materi sejarah aksara Jawa, pengenalan huruf, hingga membimbing anak-anak menulis nama mereka dengan aksara Jawa.

Suasana belajar di teras rumah terasa santai, interaktif, dan akrab. Mahasiswa praktik tidak hanya menjadi pengamat, tetapi turun langsung menulis bersama anak-anak, membuat pembelajaran terasa nyata dan dekat dengan keseharian. Pendekatan inilah yang menjadi ciri khas SALAM: pengetahuan hadir lewat kebersamaan dan keterlibatan langsung keluarga maupun komunitas.

Sesi belajar kemudian dilanjutkan dengan permainan kartu aksara Jawa. Anak-anak, mahasiswa praktik, dan keluarga berkompetisi dalam kelompok kecil, belajar sambil bermain untuk memperkuat ingatan aksara Jawa. Tak hanya menambah pemahaman, kegiatan ini juga menumbuhkan kerja sama dan suasana belajar yang menyenangkan.

Puncak kegiatan home visit diwarnai dengan makan siang bersama di rumah Logan. Momen ini menegaskan nilai kekeluargaan yang menjadi pondasi SALAM: ruang belajar tidak hanya soal materi pelajaran, tetapi juga bagaimana merajut hubungan antarmanusia.

Melalui praktik lapangan seperti ini, mahasiswa SALAM membuktikan bahwa belajar tak selalu soal duduk di bangku kuliah, tetapi terjun langsung, mendengar, memfasilitasi, dan merajut pengetahuan bersama masyarakat. Dari teras rumah Logan, mahasiswa praktik konsentrasi belajar menjembatani budaya lokal, keluarga, dan pendidikan, wujud nyata bahwa belajar memang bisa lewat siapa saja, di mana saja, dan kapan saja.