KEGIATAN PROGRAM KREATIVITAS KAWAT BULU BERBASIS SDGs 12: KONSUMSI DAN PRODUKSI YANG BERTANGGUNG JAWAB

Pada hari Sabtu, 15 November 2025, telah dilaksanakan Program Kreativitas Kerajinan Kawat Bulu Berbasis SDGs 12 di Pondok Pesantren Ahsanu Amala, Jl. Kantil No. 8, RT 06/RW 42, Sono, Blotan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara tim mahasiswa Program Pendidikan Nonformal (PNF) Universitas Negeri Yogyakarta dan pihak pesantren dalam upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Adapun tim mahasiswa PNF beranggotakan Marlissa R., Najwa O., Aghniya S., Latifa A., dan Puspita L.
Ungkap Latifa, kegiatan ini memanfaatkan bahan sederhana dan ramah lingkungan, mengajak peserta untuk berkreasi menggunakan media kawat bulu yang mudah didaur ulang. Aktivitas ini selaras dengan prinsip SDG 12, yaitu mendorong penggunaan material secara bijak, mengurangi limbah, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kreativitas berkelanjutan. Lanjut Latifa, tujuan utama program ini adalah menumbuhkan kreativitas peserta, melatih motorik halus, meningkatkan rasa percaya diri, sekaligus memperkenalkan praktik produksi kreatif yang bertanggung jawab sebagai wujud pencapaian indikator SDG 12 di lingkungan pesantren.
Pelaksanaan kegiatan dimulai pukul 09.00 hingga 11.30 WIB, diikuti oleh kurang lebih 25 peserta. Peserta mendapatkan pengenalan mengenai konsep kerajinan ramah lingkungan, demonstrasi pembuatan gantungan kawat bulu berbentuk pita, serta pendampingan langsung pada setiap tahap pembuatan. Suasana pembelajaran berlangsung hangat dan interaktif, papar Latifa. Meskipun terdapat tantangan seperti keterbatasan motorik pada sebagian peserta dan waktu praktik yang singkat karena jadwal pesantren, kegiatan tetap berjalan efektif melalui pendampingan intensif dan penyesuaian langkah kerja, pungkasnya.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta tidak hanya berhasil membuat kerajinan kawat bulu secara mandiri, tetapi juga memahami nilai penting penggunaan bahan sederhana yang berkelanjutan, tutur Marlissa. Kemampuan motorik halus para peserta terlihat meningkat, kreativitas mereka berkembang, dan muncul rasa bangga terhadap karya yang dihasilkan. Kegiatan ini juga memberikan dampak sosial positif, yaitu meningkatnya interaksi antarpeserta serta terciptanya suasana belajar yang suportif, lanjut Marlissa.
Dalam aspek evaluasi, Najwa menyampaikan bahwa kegiatan ini dinilai berhasil mencapai tujuan pembelajaran dan tujuan SDGs, terutama dalam menanamkan kesadaran produksi kreatif yang bertanggung jawab. Namun, Aghniya menambahkan ada beberapa perbaikan yang perlu dilakukan, seperti penambahan durasi praktik dan variasi bentuk kerajinan untuk meningkatkan minat serta keberlanjutan program. Ke depan, ungkap Puspita kegiatan serupa perlu direncanakan untuk dilaksanakan secara rutin dengan pengembangan tema kerajinan yang lebih bervariasi agar kontribusi terhadap SDG 12 semakin maksimal. (Marlissa, Najwa, Aghniya, Latifa, Puspita)