- plsfip@uny.ac.id atau plsfipuny@gmail.com
- http://pls.fip.uny.ac.id
- @jurplsfipuny
- facebook.com/plsfip.uny
Bahasa Indonesia
English

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Nonformal Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (PNF UNY) menyelenggarakan kegiatan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) bertajuk “Bola-bola Ubi Lumer” yang menyasar kelompok lansia di Sekolah Lansia “Sehat Ceria”, Dusun Jongkangan, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 18 November 2025.
Kegiatan dimulai pada pukul 14.00 WIB dan berakhir sekitar 17.15 WIB dengan mekanisme service-learning: mahasiswa bertindak sebagai fasilitator yang memadukan sosialisasi tujuan SDGs, edukasi gizi, demonstrasi pembuatan bola-bola ubi, praktik berkelompok, dan diskusi peluang usaha skala mikro. Tim pelaksana diketuai oleh Sandy Aji Kuncoro dengan Faris Amar
Fatin sebagai koordinator lapangan; anggota tim lain adalah Muhammad Ikhsan Fadillah dan Ifan Adiputra Dovandika. Kegiatan didampingi oleh Dosen Pengampu, Dr. Lutfi Wibawa S.Pd., M.Pd., serta melibatkan ±35 lansia peserta, 5 kader BKL, pendamping teknis dari Puskesmas Kalasan, dan representatif PKK setempat.
Menurut Sandy tujuan kegiatan ini jelas yaitu memperagakan model pendidikan nonformal yang relevan dengan pencapaian SDGs, khususnya SDG 3 (Kesehatan dan Kesejahteraan) dan SDG 10 (Mengurangi Ketidaksetaraan) dengan pendekatan inklusif yang memberi manfaat langsung bagi kelompok rentan. Melalui kombinasi edukasi gizi dan keterampilan produksi makanan olahan ubi yang mudah dibuat dan bergizi, kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan kesehatan tetapi juga membuka peluang ekonomi lokal bagi para lansia.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan sosialisasi tentang SDGs dan pentingnya pola hidup sehat bagi lansia, dilanjutkan dengan sesi edukasi gizi yang menekankan pemilihan bahan pangan sehat dan teknik pengolahan yang higienis. Pada sesi inti, tim pelaksana mendemonstrasikan tahapan pembuatan bola-bola ubi lumer—mulai pemilihan bahan, pengolahan, sampai teknik pengemasan sederhana—lalu peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan praktik langsung. Setelah praktik, setiap kelompok diminta merumuskan satu gagasan usaha mikro berbasis produk yang mereka buat; gagasan-gagasan ini kemudian didiskusikan bersama peserta dan pendamping untuk potensi tindak lanjut.
Lebih lanjut Sandy menjelaskan bahwa evaluasi pelaksanaan dilakukan melalui beberapa indikator sederhana namun relevan, meliputi daftar hadir (absensi peserta), pre-post survey untuk mengukur perubahan pengetahuan gizi, observasi keterampilan praktik pembuatan produk, serta identifikasi minimal satu ide usaha kelompok. Hasil pengukuran menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan praktis di antara mayoritas peserta, serta tercatat beberapa gagasan usaha kecil yang memiliki potensi untuk diuji coba di posyandu atau bazar lokal.
Tim pelaksana melaporkan bahwa kegiatan tersebut berhasil meningkatkan kesadaran gizi bagi peserta lansia serta membekali mereka keterampilan yang bisa diterapkan segera. Selain itu, dokumentasi kegiatan tersusun lengkap—menguatkan bukti pelaksanaan dan memudahkan replikasi program di komunitas lain. Identifikasi gagasan usaha skala mikro memberi peluang bagi pemanfaatan produk lokal (ubi) menjadi sumber pendapatan tambahan untuk lansia dan keluarga mereka, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kreativitas ekonomi berbasis komunitas.
Berdasarkan temuan lapangan dan refleksi tim pelaksana, ada beberapa rekomendasi strategis diajukan untuk memperbesar dampak dan keberlanjutan program :
1. Menyusun modul pelatihan khusus mengenai pengemasan dan praktik higienitas produk makanan bagi lansia agar produk layak jual dan memenuhi standar kebersihan.
2. Memfasilitasi pertemuan lanjutan antara kelompok lansia, Puskesmas Kalasan, dan PKK untuk dukungan teknis (mis. validasi gizi, izin edar sederhana) serta strategi pemasaran lokal.
3. Menyusun dokumentasi evaluasi yang lebih kuantitatif sebagai bahan referensi agar model ini mudah direplikasi oleh komunitas lain atau dijadikan studi kasus program pemberdayaan lansia.
Kegiatan “Bola-bola Ubi Lumer” ini menurut Sandy bisa menjadi contoh konkret bagaimana pengajaran berbasis proyek (project-based learning) di pendidikan nonformal dapat diintegrasikan dengan agenda SDGs— menghubungkan kesehatan, ekonomi lokal, dan inklusi sosial—serta membuka jalan bagi inovasi pemberdayaan komunitas yang dapat direplikasi di wilayah lain. Secara umum kegiatan ini berjalan interaktif dan partisipatif serta memadukan edukasi kesehatan, keterampilan produksi makanan bernilai ekonomi, dan upaya pemberdayaan sosial, pungkasnya. (Sandy, Faris, Ikhsan, Irfan)
Copyright © 2026,